Senin, 22 September 2008

First step abroad... Singapore Episode (2nd)

Still In Harbor Front

Pernah nonton "Kabayan Nyaba Ka Kota"??? alias Kabayan berkunjung ke kota. Mungkin seperti dialah kondisi saya saat itu. I was there by my own self with diferent of Culture, Technology and custom...

Setelah bercengkrama dengan pihak imigrasi yang cukup friendly maka mulailah saya masuk Harbor Front yang cukup besar, bahkan sangat besar dibandingkan dengan pelabuhan batu ampar. I've never seen a city as clean as Singapore....
Harbor Front begitu luas, banyak toko yang jual makanan hingga pakaian. sebenarnya saya sudah mengantongi beberapa tempat untuk dikunjungi namun bingung bagaimana cara menuju kesana. Untungnya Singapore punya fasilitas penunjuk tempat wisata dan fasilitas yang sangat baik. Dapat kulihat jelas pilihan transportasi berikut penunjuk yang mengarahkan menuju ke tempat naik transportasi itu, ada beberapa pilihan:
1. MRT (Mass Rapid Transportation) atau dahulu biasa saya kenal kereta subway.
2. Taxi
3. Bus
4. SMRT , saya masih aga bingung dengan yang ini. Berupa Taxi yang ditumpangi lebih dari satu pelanggan/penumpang.

Pilihan yang paling saya anggap effisien ialah MRT, namun I don't know how to use it... pertama saya tanya kepada seorang pelajar wanita bagaimana cara menggunakan MRT namun bahasanya yang sangat tidak English (sangat Singlish) membuat saya tidak dapat menangkap maksudnya. lalu saya bertanya pada seorang dewasa dengan bau alkohol di mulutnya namun tetap ia tidak berbahasa Inggris, Chinese. Sempat mau putus asa akhirnya saya naik ke tempat taxi, dengan konsekuensi harga yang mahal namun taxi pun tidak ada yang stand by dan yang jalan pun tidak ada yang berhenti... setelah hampir 1 jam selama bertanya tentang MRT dan Taxi akhirnya saya ke putuskan kembali ke tempat MRT mempelajari peta lalu bertanya kepada seorang PRIA Alhamdulilah dengan bahasa Inggrissnya yang baik saya dapat mengerti dengan mudah.

MRT pilihan transportasi yang canggih
ternyata MRT Ticket machine tidak saya dapat mengenali uang logam saja namun uang kertas dengan beberapa nominal, alamak betapa tertinggal nya aku atau betapa tertinggalnya negaraku tercinta ini. setelah menukarkan koin ke counter lalu sy mulai menggunakan MRT dengan tujuan ke Clarke Quay. Bersih, teratur, dan cepat.... itulah kesan saya terhadap MRT.

Clarke Quay
Tujuan pertama ini dikarenakan ada satu wahana di sini, Extreme Bungee Jump. Berupa sebuah kerangka bola raksasa dan kita bisa terikat duduk didalamnya dan bola tersebut dipentalkan berkali-kali ke angkasa.... begitu tiba di clarke quay saya harus melewati mall, the center baru dapat menuju ke Bungee Jump. Sayang wahana tersebut baru buka pukul 3 sore dan tiketnya pun cukup mahal SGD 35...
puas keliling Clarke Quay saya menuju China Town...







China Town
masih menggunakan MRT saya menuju China town. Kata orang-orang di sini cukup murah untuk berbelanja souvernir, hingga akhirnya saya tahu bahwa orang-orang tersebut cukup tertipu bila mengatakan itu murah. Di China Town sangat padat, Singapore sangat unik, begitu kita masuk daerah tertentu maka daerah tersebut benar2 mempresentasikan namanya. China town berasa kita di China dengan bahasa, tulisan dll menggunakan China. Saya teringat dengan titipan adik saya, MP3 player. di satu toko saya akhirnya bisa menawar dengan harga cukup baik SGD 20 bila saya tidak salah. Lalu saya membeli souvenir, gantungan kunci, magnet, cincin, cincin jam, gantungan HP etc... but chnatown is not a comfort place

Orchard Road
Ooohhhh............... pernah dengan tentang orchard road kawan. menurut bangsa kita di sana salah satu tempat terbaik untuk berbelanja... ternyata itu benar kawan hanya dengan satu catatan : U are have a huge number of income. bagi orang seperti saya hanya bisa membeli sebuah kaos discount bertuliskan I Love Singapore serga SGD 10, tapi jangan salah mereknya Giordano boy .... Sudah kujanjikan untuk si Ipeh. Di pedestrian banyak gerobak yang menjual Ice Cream potong dan mineral water. dengan SGD 1 saya membeli air mineral, rasanya haus sekali.

Little India
saya belum Sholat Dzuhur, by browsing di internet saya mengetahui ada mesjid di China Town dan Little India namun saya tidak menemukan di China town akhirnya dengan MRT saya ke Little India. Jameela Mesjid... Little india benar-benar mempresentasikan India, aga kumuh, ada peramal2 di samping2 bangunan , banyak toko yang menjual perlengkapan mereka sembahyang. Cukup sulit menemukan Mesjid tersebut namun akhirnya saya berjalan ke arah yang benar. Beberapa meter sebelum masjid saya berjalan disamping seorang muslim india, "Sorry do you know where Jameela Mesjid is?" dengan bahasa inggrisnya yang kurang baik dia menunjukan tidak jauh lagi dan kita mempunyai tujuan yang sama, Jameela.
Mesjid itu sangat unik, tidak besar namun cukup unik dengan kaligrafi dan coretan2 di dinding. Masjid dua tingkat ini menyisakan ruang kosong berbentuk bulat di tengahnya, inilah yang menurut saya unik. Setelah solat orang yang saya jumpai tadi mendekati, dia memperkenalkan diri sebagai kepala sekolah sebuah pesantren di India. Dia mengutarakan bahwa pesantrennya tersebut sedang di renovasi dan butuh biaya. "actually i have no dollar anymore, do accept if in IDR? " akhirnya saya beri lima puluh ribu rupiah "How much is it if convert to USD?" it's around USD 11. Dia langsung kaget, "don't you have 100 dollar???" heheh..... "sorry i'm not a rich person. But Insya Allah i'm ikhlas.

Clark Quay .... again
Akhirnya saya tidak memutuskan untuk membeli makanan di Little India. Waktu di Clark Quay sebelumnya saya melihat Sepatu Puma discount 50%... jarang banget di indonesia puma disc sampe segitu. akhirnya kuputuskam membeli Slip Shoes seharga SGD 45. Ice cream kubeli dengan 1 SGD, enak sekali rasanya hingga di rumah teteh saya mengingatkan akan kehalalan nya... huh....... kenapa ga inget coba yah :(

Harbor Front
ada kejadian memalukan sewaktu saya pulang ke batam. Saya menyepelekan tentang foreign currency. Di dompet udah ga ada SGD lagi, saya lupa seaport tax harus pake SGD akhirnya pas mo bayar saya minta pake IDR tapi mereka tidak terima rupiah heheh... akhirnya sy titip dulu pasport dan withdrawal ke OCBC ATM karena saya pegang NISP atm...

Perjalanan Sore menuju magrib membuat saya melihat singapore as a city light... Lelah sekali rasanya. pukul 7 kurang akhirnya tiba di batu ampar, pa yusuf sudah menunggu dan langsung kuteruskan ke Bundo Kanduang rumah makan padang...

Selasa, 16 September 2008

Stuck in a moment (september)

Selasa, 16 September 2008

Masih jam 3 sore, rasanya berat sekali akhir-akhir ini. Masih kunanti angin semangat itu, dimana bisa mengembuskan kencang seluruh adrenalinmu dalam menjalani hidup. Yang selalu dapat membuatmu meloncat-loncat seperti kembang api atau petasan saat bulan Puasa. Masih kunanti, agar aku dapat terbang tinggi lagi jauh meninggalkan khayalan orang di sekitarku. Mungkin rasanya seperti ada semut yang menggelitik dalam telingamu, atau pernahkah kau merasa ada sesuatu yg sangat menggelitik dalam darahmu. Itulah angin semangat yang bisa membuatmu melebihi jangkauanmu.

Sore ini semua terasa kaku, angin itu tak kunjung tiba. Mungkin saja aku sedang tersesat karena kabut pekat, hingga kadang ku bingung dengan arah haluan. Dalam diri seperti ada perdebatan, dan itu datang dari tempat yang sangat dalam, dalam bahkan kau tidak bisa melihat dengan mata terbuka. Perdebatan antara dua sifat manusia:
"Ridz, kemana impianmu, semua rencanamu, kemana tujuannmu akan hidup selama ini??? ini hanya sebagian dari perjalanannmu. Ayo kawan, jangan kau diam tersungkur dalam lembah nan pekat ini"

"Tapi bukankah ini terlalu melelahkan? saya pun bingung kemana impiannya saya yang selalu saya gantung di depan kepala saya. angin itu pun tak kunjung datang."

mungkin saya sedang lelah saja, butuh sesuatu yang menggelitik hati ini. Ingat pepatah classic, kenyataan itu jauh lebih sulit dan menyakitkan. Itu benar, tampaknya sangat sulit ketika enkau memiliki impian di angkasa namun pada kenyataannya kau hanya mempunyai tangga untuk menggapainya.

bukankah perasaan ini siklus saja? dulu saya pernah merasakannya, dan itu berlalu. namun kemana angin itu.... padahal saya sudah berjanji untuk tidak mengeluh. Allah terlalu sayang pada saya, dan rasanya saya menjadi anak yang sangat bebal.

Baiklah kalau memaksa, kau pasti tak mengerti apa yang kuutarakan kawan.... baiklah akan ku coba dengan bahasa manusia.

awal bulan ini adalah bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan bertepatan pula dengan awal kuliah. Ternyata kuliah malam di UI tidak mudah, diluar tebakan saya. Materi yang disajikan benar2 real seperti kelas reguler, dan begitu pun dengan tugas. kadang cape aja, pergi dari kantor jam 5, nyampe kampus jam 6. istirahat, solat, makan kecil trus lanjut kuliah. begitupun dengan tugas, rasanay butuh 36 jam dalam satu hari.

Just wish me, mudah2an saya bisa survive sampe lulus....

hei kawan biar kuberitahu kau sedikit rahasia.... saat ini saya sedang dekat dengan wanita. tak ada hal khusus dalam menyukainya, dan hingga saat ini saya masih meraba-raba harus kemana perjalanan ini. Masih ingatkah akan pernyataanku tempo hari??? yup, sy tidak sedang mencari seorang pacar, lebih tepatnya saya mencari pasangan hidup. tapi bukankah itu teramat sulit? sulit sekali bahkan, sampe2 saya ga tau harus gimana? tampaknya hari ini dia sedang marah, sama saya. tapi bingung juga marah kenapa yah... ah wanita.....

Boleh saya tanya? apa ini semua terlalu menakutkan? maksud saya dengan pasangannmu. Apa kamu yakin, arhghghghh scarry... Andai saja semangat itu selalu membuncah seperti andrea hirata...

Minggu, 22 Juni 2008

First step abroad... Singapore Episode

Teringat waktu kecil ketika semua teramat polos. Begitupun dengan mimpi, gugusan bintang di langit yang selalu berkelompok dengan wibawanya telah menjadi teman sejati ketika seorang anak kecil menginginkan terbang ke alam luar.

Pagi itu terasa berbeda dengan pagi lainnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cuaca, hanya saja pagi itu saya bergegas check out untuk pindah hotel dan menyeberang ke Singapura. Jam masih menunjukan pukul tujuh ketika saya sampai pada Grand Park hotel di Batam. Check in hotel terpagi yang saya pernah lakukan. Alasannya simple, hotel sebelumnya, Singapura, yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari grand park benar-benar membuat saya tersiksa. Hotel yang pengap, kotor, AC mati, serta setelah saya perhatikan hotel tersebut merupakan hotel yang biasa dipakai oleh Pasangan Kumpul Kebo. Dengan 80 ribu saya mengambil 1 kamar setelah jatah gratis di Hotel Novotel bintang tiga habis. Alasan mengambil Hotel Singapura cukup sederhana, dekat dengan kantor agent dan sangat dekat dengan Mesjid, tapi.....

Setelah check in dengan cepat, saya hanya menaruh carrier serta menitipkan Cucian kepada Laundry.Saya langsung menggendong tas hitam untuk mencari sarapan, nasi Goreng sebelah hotel menjadi pilihan saat itu, di pagi-pagi begini memang nasi goreng bukan menjadi makanan yang aneh di batam.

"Pa Yusuf, saya sedang sarapan. Bisa jemput saya setengah jam lagi? saya ada di tukang nasi goreng sebelah hotel" pembicaraan singkat dengan pa Yusuf. Selama di batam ini pa yusuf menjadi supir taksi yang selalu menemani saya kemanapun saya pergi. Dengan tujuh ribu per porsi nasi goreng, terasa cukup murah mengingat biaya makan cukup mahal di Batam. Sepiring nasi uduk serta pecel lele saja kisaran harganya Rp 15.000.

Ternyata pelabuhan Ferry Batu Ampar ini tidak sekecil yang saya bayangkan. Tempatnya cukup bersih, namun sayangnya saya ketinggalan vessel pertama pukul 8.00. saya datang pukul 07.55, karena check in terakhir itu 15 menit sebelum keberangkatan terpaksa saya harus menunggu pelayaran selanjutnya pukul 09.00. Untungnya ada cafe yang buka, jadi kupesan secangkir kopi susu sambil menunggu kapal berikutnya. Perasaan tegang menyelinap kedalam kalbu,karena ini merupakan kali pertama saya hendak melancong ke luar negeri. Ini merupakan salah satu mimpi saya sewaktu kecil. mendekati jadwal check in saya mebayar fiskal ke bagian pajak. 500 ribu merupakan fiskal untuk pelabuhan, berbeda dengan bandara yang mengharuskan membayar 1 juta rupiah. Sebenarnya tiket ferry ini cukup murah, hanya dengan 120 rb kita sudah mendapat tiket return ditambah sea port tax 49 ribu rupiah. ketimbang bila kita naek pesawat, setidaknya fiskal 1 juta ditambah airport tax sebesar 100 ribu ditambah tiket pesawat itu sendiri yang bisa mencapai sampai 1 juta.

Imigrasi Batu Ampar
Imigrasi di pelabuhan batu ampar terkesan sangat longgar mungkin karena masih cukup pagi, X-ray for baggage saja tidak ada yg menjaga. Saat ditanya petugas imigrasi maka terasa sangat santai dan lenggang mudah-mudahan imigrasi di singapura pun mudah setidaknya tidak seribet cerita buruk orang-orang. Ruang tunggu pun begitu informal, sampai petugas tiket yang memeriksa vessel pas nya pun banyak yang tidak berseragam.
Telat 15 menit akhirnya kapal tiba pukul 09.15. Semua penumpang pun bergegas menuju kapal ferry untuk mendapatkan posisi ternyaman. Ada niat di hati untuk duduk di dok luar, namun kuurungkan. saya hanya mengambil kursi lantai 2 bagian depan. Di ferry ini kita bisa membawa makanan serta minuman sendiri tidak seperti di pesawat. sekitar 1 jam 15 menit kapal ferry telah tiba di Harbor Front Singapore.


Harbor Front Singapore
Immigration
Subhanallah..... Finnaly i've landed my feet abroad. Dreams come true...
Teringat pesan teman saya, mengenai Janggut yang terkadang membuat orang2 berpikiran negatif terhadap seseorang. Tampaknya orang melayu pihak imigrasi yang mewawancaraiku... sangat ramah malah memberi saya nasihat untuk tetap tawakal kepada Allah saat saya menceritakan bahwa bisnis tidak semaju tahun lalu.

to be continued............

Minggu, 23 Maret 2008

Ayat-Ayat Cinta

Mungkin basi bila saya menceritakan tentang Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy. Tapi kenyataannya saya telat membacanya.
Begini ceritanya:
Sabtu malam saya mengajak seorang wanita yang baru kukenal untuk menemani menonton, dan saat itu ada Ayat-Ayat CInta di Cinema XXI. Saya sudah dengan tentang dasyatnya novel tersebut dan menjadi Best Seller ASEAN, begitu ada filmnya juga saya dengan Full Booked hingga ada cinema yang hanya menayangkan Ayat-Ayat Cinta. Tapi seperti biasa saya selalu telat baca karya yang mahadasyat seperti telat baca laskar pelangi, sang pemimpi dan edensornya andrea hirata.

"Mumpung belum baca novel, jadi mudah2an bisa lebih netral menilai film ayat2 cinta, karena bagaimanapun novel tidak bisa dipersandingkan dengan filmnya, merupakan 2 media yang berbeda"
SUBHANALLAH, my tears almost streaming watched that movie. Film yang benar-benar membuat saya berpikir berkali-kali.... dan membuat saya merasa kecil. Betapa Maha Suci dan Besarnya ALLAH. saya kira tidak perlu diceritakan tentang isi Film tersebut, sudah banyak blog atau resume yang menulisnya.
Pulang dari nonton, dada saya masih bergetar, satu pertanyaan utama yang timbul dalam hati: "Apakah Saya Seorang Muslim?"
Keesokannya saya putuskan membeli novelnya di Palasari, dan saya bawa ke cikarang. Begitu sibuknya minggu setelah saya nonton, tapi saya curi waktu dan minggu itu pula saya menyelesaikan baca. Tak bisa kupungkiri membacanya membuat saya menitikan air mata berkali-kali, kagum, sadar, malu.... Kembali pertanyaan berkecamuk dalam jiwa:
"Apakah saya seorang muslim? kalo iya mengapa kehidupan saya sangat jauh dari Tuntunan Rasulullah SAW, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya"
"mengapa dalam sholat saya tidak khusyu, bagaimana anak berumur 7 tahun di Tanah Arab sana bisa hafal Al-Quran sedangkan saya hanya hapal beberapa surat,itu pun sangat pendek yang terdapat di Juz 30, mengapa terakhir ini saya masih menganggap pacaran sebagai hal yang sangat wajar, mengapa pemikiran saya seakan lebih mengagungkan Dunia terutama barat, mengapa saya belum berani berteriak SAYA ADALAH MUSLIM, mengapa saya masih takut kepada bos ketimbang Allah"

Betapa cinta pada Allah dan Rasulnya itu menenangkan....

Buat apa saya hidup? Apa yang saya cari dalam hidup?

Mungkin selama ini pengajaran agama lebih bersifat Doktrin, antara Surga Neraka, Malaikat Iblis, Salah Benar... Padahal bila kita tahu maka Mencintai Allah dan Rasulnya akan membuat hidup berkah. Bila kita mengaudit diri kita, berapa banyak amal dan dosa yang kita lakukan di dunia, maka betapa sedikitnya amal dan betapa menggunungnya dosa. Dengan mengenal dan mencintai Allah serta Rasulnya maka kita melakukan ibadah karena kebutuhan, karena kita cinta bukan karena terpaksa dan takut. Benar bila kita harus takut pada Allah, tapi Allah maha pengasih dan penyayang. Maha suci Allah yang menganugerhakan hati yang lembut pada manusia.

Saya mau tanya kepada anda yang mengaku muslim, Apakah anda muslim? mengapa anda takut memperlihatkan bahwa anda seorang muslim, seorang yang dibekali agama yang rahmatan lil alamin.

Betapa tak terukur nikmat yang Allah berikan pada kita. Dari bangun tidur saja tadi berapa nikmat yang Allah berikan.

Betapa sempurnya Rasulullah, Akhlak yang baik, Al Quran berjalan. Betapa Ikhlas dan sabarnya beliau....

Insya Allah saya akan belajar lagi mengenal Allah dan Rasulnya. Semoga Allah memberi petunjuk bagi kita semua, menjadikan Cinta kepadanya serta Rasulnya lebih dari cinta kita terhadap Dunia yang sementara ini. Mudah - mudahkan hidup kita dipenuhi berkah...

Allah Yubarik Fik......

Selasa, 22 Januari 2008

Wish he could accompany me to discuss Macro Economics

Wajahnya kelihatan sangat lelah. guratan2 di bawah kedua belah mata tampak tegas, akan dapat dengan ditebak berapa umurnya. Kakinya sudah tak kuat menahan tubuh yang semakin kurus, jadi sebagian besar waktunya ia habiskan di kursi roda atau tempat tidur. Di kala orang dapat tidur setidaknya 7 jam sehari, pria ini hanya dapat tidur tak lebih dari 3 jam setiap harinya. bukan karena hobi sebagian manusia malam yang senantiasa "terbang" atau apapun, melainkan tidak dapat menahan pegal, gatal dan ngilu di sekujur tubuhnya. Apalagi ketika sehari sebelum cuci darah, seringkali harus menggunakan alat bantu pernapasan dengan tabung oksigen seperti yang ada pada rumah sakit. Sudah hampir tahun kedua baginya setelah divonis gagal ginjal.


Di malam itu saya pulang dari Cianjur seperti yang telah saya jadwalkan. Setibanya di rumah pukul 7 kurang 5 menit, tak ada seorang pun anggota keluarga. Yang ada hanyalah bi Dewi, dan dua pembantu lainnya yang saya pun lupa namanya. "Bapa, masuk rumah sakit setelah pulang dinas dari Kuningan. Bapa sempet masuk rumah sakit di sana gara2 pusing dan matanya mengeluarkan darah, tapi langsung dirujuk ke Boromeous Bandung" Bibi mencoba memberitahukan semampunya. Saya tahu selama saya di Cianjur Bapa pergi dinas ke Kuningan dengan membawa serta mama dan adikku, aip. Tak lama kemudian sodara kami menjemput saya dan adikku untuk datang ke rumah sakit. Tak ada yang mau memberitahu apa yang bapak derita. setelah beberapa saat memaksa akhirnya ada seorang rekan bapak yang mencoba menjelaskan tentang kejadian yang berlaku pada ayahku. "Bapa mengalami gagal ginjal, udah gitu harus dioperasi dan dipasang alat untuk cuci darah" pada awalnya saya tidak terlalu khawatir karena kabar terakhir alat tersebut telah terpasang pada lengan ayah saya. tepatnya dibalik kulit lengan dekat pergelangan tangan. Namun setelah saya mendapat pengertian bahwa, dengan dijatuhkan vonis gagal ginjal akut serta pemasangan alat bantu cuci darah atau hemodialisma tersebut sama artinya dengan ginjal yang berfungsi mencuci darah dari racun dan kotoran tidak lagi berfungsi dan diambil alih oleh alat cuci darah, ginjal yang senantiasa melakukan perkerjaan itu setiap saat sama sekali pensiun, oleh karena itu ketergantungan dengan ginjal yang terletak menyatu dalam tubuh kali ini berbeda letak nya dan bentuk, artinya tanpa melakukan cuci darah tersebut tubuh akan merasa lemah sesak napas karena darah tidak bersih seperti semestinya, itu pula berarti sejak saat itu kebergantungan itu berpindah pada alat dan secara syariat dan dengan izin ALLAH tanpa alat itu hidup akan terhenti, itu pula berarti tidak ada obat medis untuk menyembuhkan penyakit tersebut karena cuci darah hanya sebagai syariat pengganti ginjal untuk memperpanjang umur, danitu juga berarti biaya yg tidak terbayangkan untuk tetap dapat melanjutkan hidup.


Hal yang tidak terbayangkan saat pertama kali mendengar vonis itu adalah mental bapak. Betapa hancur semua harapan yang telah di susun selama hidupnya tentang, masa depan, kegiatan setelah pensiun, melihat anak2nya dewasa dan menimang cucu karena saat itu saya masih duduk di kelas tiga smp.


Betapa sulit menerima kenyataan ini, disaat kakaku masih saja tersesat dengan dunia pekatnya, ditambah bapak yang terpaksa menelan pil pahit itu tiba2. Memang ada jalan lain dalam pengobatannya secara medis, yaitu transplantasi Ginjal atau menukar ginjal yg sudah rusak tersebut dengan ginjal orang lain yang masih baik. Masalah utama ialah Biaya. Untuk dapat melakukan tranplantasi ginjal setidaknya kita harus mengantongi uang 500 juta (tahun 2000) untuk operasi di China, guanzhou dan treatment pasca operasi pun masih mahal, dan belum tentu ginjal yg baru tersebut cocok 100%. ada kalanya ginjal tersebut walaupun didiagnosis cocok tapi pada saat setelah dipasang malah tidak cocok. Tapi masalah utama ialah Uang, sebagai trade of dari tranplantasi ginjal.


Jadwal bapak cuci darah ialah 2 kali seminggu. dengan pertimbangan biaya yang lebih rendah bapak memilih RS Ginjal Habibie untuk treatment tersebut. namun setelah jalan beberapa bulan tampaknya karena alat nya kurang bagus hal itu pun berpengaruh kepada kesehatan bapak yang semakin menurun. Walaupun harga yang dibayar lebih mahal yaitu sebesar 450 ribu sekali cuci di Boromeous dibandingkan dengan RS Ginjal Habiebie Rp 300 ribu sekali cuci tapi pelayanan dan hasilnya jauh lebih memuaskan. Pada waktu di Habiebie bapak cukup sering menginap di RS karena kondisinya menurun setelah pindah ke Boromeous hal itu berkurang.


Bapak hanya seorang PNS walaupun dengan golongan cukup baik yaitu 4c. tapi saat itu pns bergaji pokok sangat minim Rp 1.750.000. Bapak bukan tipe yang menggunakan uang yang bukan hak nya, setidaknya itulah yang kurasakan. Kami tidak mempunyai mobil pribadi, bapak menggunakan mobil plat merah Ironi memang dengan jabatannya yg akhir2 ini saya tahu sangat bergengsi, Kepala Cabang Kotamadya Bandung Dinas Perdagangan . Pernah suatu saat saya bertanya pada mama sewaktu masih kelas 4 SD "mah ko kita ga punya mobil? padahal hampir setiap bapak tidak menggunakan mobil kantor selalu diantar jemput oleh anak buahnya dengan mobil yang kadang berbeda walupun supirnya sama" "teman bapakmu itu pinter nyari uangnya, tidak seperti bapakmu" jawabnya singkat yang akhir2 ini kuketahui maksud sesungguhnya mamah. suatu saat saya menghitung tentang biaya pengobatan bapak:

1. cuci darah 2 kali seminggu = 2 X 450.000 --------> 900.000
2. obat2an 100.ooo X 2 -----------------------------> 200.000

setidaknya menghabiskan 1.100.ooo semninggu itu berarti minimal membutuhkan 4.100.000 selama satu bulan. dan Kenyataanya akan lebih karena kadang obatnya lebih atau bahkan bapa harus menginap karena kondisinya menurun. bahkan ada obat berupa suntikan seharga 1.5 juta untuk sekali suntik dengan periode yang tidak saya ketahui.


1.750.000 gaji bapak terakhir, beserta tunjangan paling besar dapat 2 kali lipatnya saya rasa... masih belum cukup untuk biaya minimum cuci darah selama sebulan. Dan bapak tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kegiatan kerjanya. Akhirnya beliau minta pensiun dini menyadari tubuhnya tidak akan kuat lagi melanjutkan pekerjaannya.


bintik hitam berdiameter 0.5 cm memenuhi tubuhnya, bintik tersebut tidak lahir dengan sendirinya tapi karena awalnya muncul bintik merah gatal atau biasa kami sebut bentol, dan karena kegatalannya nya yg luar biasa maka bapak selalu menggaruknya, bahkan beliau mengorbankan salah satu sisir rambut sebagai alat garuknya. bintik kecil merah gatal tersebut akhirnya gosong akibat selalu digaruk... hampir tiap malam gatal tersebut penyebab tidak bisa tidurnya. Apabila bukan gatal maka karena sesaknya atau rasa ngilu yang amat sangat seperti tulang yang ditekan obeng. dan tiap malam pun kita bergantian memijati atau menggaruki punggung dengan sisir biru. sebenarnya tidak setiap malam tapi setiap kita ada di rumah, bahkan sering kali subuh dinihari kami dibangunkan oleh karena gatal dan ngilunya. Sungguh menderitanya beliau....


Rasanya tidak tega melihat penderitaannya, terutama mentalnya yang hancur. Pernah suatu ketika kami semua sedang merasa lelah atau lebih jujurnya malas untuk memijati dan menggaruki maka kami melakukannya dengan setengah hati. Kami tidak sadar bahwa mental orang tua itu tidak setangguh dahulu dan sangat sensitif. malam itu bapak tidak mau makan , dan ketika saya tanya " Pa mau makan apa?" setelah ibu menyerah bertanya tentang makan malam karena tidak dijawab. "bapak ga mau makan, bapa mau mati".... dengan lantang orang tua yang sangat kusayangi itu menjawab. setelah itu bapak pergi entah kemana, mamah hanya bisa diam dan lelah dengan sangat. saya tahu mamah pasti menangis dalam kamar tapi saya tidak kuat untuk menenangkannya. "Dewi, kalo suami lagi sakit teh di rewat atuh" terdengar dari suara telepon bahwa kakaknya bapak yg cewek sedang menasehati mamah. Ternyata bapak pergi ke rumah kakaknya dan baru keesokan harinya pulang.


Rasanya sangat lelah, di satu sisi ayah sakit di sisi lain kakakku semakin menjadi dengan narkobanya. Rasanya seperti berada di dunia yang aneh. Di saat semua hampa, di saat semua pekat di saat tak ada kekutan bahkan untuk tersenyum, di situlah letak Kekuasaan Allah. Allah takkan membenai hambanya dengan beban yang tak sanggup dipikul hambanya.

09 September 2001
Subuh itu terasa begitu dejavu... mamah ngebangunin saya dengan tergesa dan panik, dengan kesadaran yang baru setengah pulih saya beranjak untuk menemui bapak. tampaknya bapak sudah berada di depan kamar tidur dengan kursi rodanya. "kenapa pa?" tanyaku, dan bapak hanya bisa mencoba untuk bernafas, karena saat itu rasanya sulit sekali bapak untuk bernafas. "yit, mamah solat subuh dulu kamu tungguin bapa ya, udah gitu kita ke boromeous" mama tetap berusaha tenang . sementara dengan segala kepanikan saya berada sendiri di sebelah bapak tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Di subuh itu, di saat hanya seorang diri menemami tanpa tahu apa yang harus dilakukan, Sang Kholik telah memangil Bapak untuk kembali, dan hingga akhirnya saya masih tidak sadar apa yang terjadi dan saya tidak mau menerima kenyataan bahwa bapak yang jujur, yang hebat seluruh dunia itu telah tiada. barulah teteh, aip dan kaka bangun.

Kita semua masih belum bisa mengambil keputusan hingga dokter rahmat datang pukul 6 pagi. "kikik, udah sekitar setengah jam ga ada, Ikhlasin aja ya Dew" cukup berat dokter rahmat menyampaikannya, namun berupaya realistis. ...

Hingga ku menulis ini masih saja terkadang bermimpi untuk berbincang sama bapak, Ingin rasanya meminta nasehat, diskusi tentang ekonomi makro, dan masa depan... namun takdir berkata lain. Dan semua ini telah mendidikku untuk menjadi lebih mandiri, dan semoga akan hadir ayah paling hebat untuk anakku...

Bandung, 28 September 2008

Minggu, 20 Januari 2008

Masa kecil, ketika kepolosan dan pencarian

"Gung, kalo kamu dapet semilyar kamu mau beli apa?"

pertanyaan klasik anak kecil saat membahas tentang mimpi-mimpinya... pertanyaan seorang anak kepada teman sebaya, sebenarnya lebih tua, pada saat dia belum genap 9 tahun.

"hmm..... mau bangun rumah yang gede, ada banyak kolam ikan, udah gitu ada toko maenan di rumah, beli mobil taman, beli koleksi lengkap dragon ball, maenan batman, beli 3Do yang setahu kita itulah permainan konsol paling canggih saat itu, dan PS belum ada"

"Mun maneh par?" tatapanya tetap keatas tak melihat muka lawan bicaranya yg tepat disampingnya dengan dengan jarak 5 cm..

"saya mau beli maenan yang banyak.... beli mobil, motor balap, rumah yang ada restoran dan toko maenan..."

Siang itu cuaca cukup cerah, mungkin sekitar jam 1 lebih bahkan hampir jam dua... tiba2 cerah dan panas mentari berubah seperti sekam yang di ditutupi oleh karung goni yang basah. Ah... salah satu cuaca favorit ku. mentari itu tertutup oleh awan yang hendak berjalan perlahan seperti kawanan musafir yang melakukan perjalanan jauh, atau seperti sekumpulan kerbau yang berpindah mencari sumber air untuk kehidupannya. yang saya lakukan ialah jongkok dan duduk, sebuah kombinasi antara posisi jongkok tapi bokong ikut menopang tubuh, di atas pagar besi dengan tinggi pagar sekitar 1,5 meter dan lebar kurang dari 1 meter karena pagar tersebut merupakan anak pagar untuk dilewati 1 orang atau 1 motor. tiang yg melekat Pagar tersebut tingal 3 karena 2 lainyya potong setelah karat menyelimutinya, dan di bekas 2 tiang pagar itu ada melakukan jongkok dan duduk walau ruang yang tersedia sangat pas dengan ukuran tubuh saya yang terbilang sangat kurus. Tapi di tempat itulah khyalan akan sesuatu muncul. Sambil melihat awan yang menutupi sinar mentari saya rasakan kedamaian yang amat, seperti pelukan ibu ketika kita selesai mandi karena kehujanan saat main bola, atau seperti berebah pada tumpukan bantal bed cover dan guling putih yg lembut. mungkin hal itu terlalu berlebihan untuk anak berumur 5 tahun dalam beberapa bulan kedepan dan belum merasakan institusi pendidikan formal yang sering dinamakan Taman Kanak-kanak.

Kata-Kata Orang Tua
Kata orang tua, kita harus menurut kata2nya. pernah suatu ketika guru TK saya yang sangat saya kagumi karena kebaikannya dan juga dia berparas cantik Bu Ening, yang ternyata baru saja menikah ketika kami naik ke TK 0 besar, menyuruh kami membawa 1 tanaman untuk diletakan pada halaman TK. Saat saya hendak turun dari mobil, paman saya berkata "yit, pot nya kang deden pegangin dulu, ntar kalo udah deket baru kamu yang pegang"... kang deden berkata sambil tak lepas dari kursi supirnya. "ga usah, uyit juga bisa sendiri" dan langsung saja saya turun dari mobil dengan bangga membawa pot dalam pelukan, alhasil begitu kaki menginjakan tanah pot itu juga ikut menyentuh tanah dan pecah... semenjak itu saya percaya apa yang keluar mulut dari orang tua itu akan berlaku dalam kenyataan. Tapi untuk kedepannya saya sering juga tidak mengikuti apa yang dikatakan orang tua dan sebagian besar yang saya tidak ikuti menjadi kenyataan.

Penasaran kalo kayu masuk ke jari-jari sepeda yg berjalan
Mungkin di otak setiap anak kecil pada saat belum sekolah hanyalah main dan main. bahkan makan pun seperti sesuatu yang tidak dibutuhkan, sangat bertolak belakan ketika mereka beranjak menjadi manusia dewasa yang merasakan tanpa makanan maka ancaman hidup pun akan terjadi. Walaupun umur belum geanp 5 tahun dan itu menyebabkan saya belum boleh mengecam pendidikan TK, tapi rasa ingin tahu ini sangatlah dalam. Pernah suatu sore, baru saja saya mandi dengan tanpa paksaan dan pembantuku berusaha sekuat mungkin untuk memasukan makanan ke dalam mulutku dan berharap sampai ke dalam perutku. dengan pakaian lengkap pembantuku membujuk agar makanan dapat masuk ke dalam mulut ini dengan rayuan yang membohongi anak2 indonesia," ayo, satu suap lagi" dan ia katakan untuk kali ke sepuluh di depan rumah. Tiba2 ada tetanggaku yang cukup dewasa terlihat sedang naik sepeda dan seketika ia melewati saya dan si bibi yg sedang berkegiatan menyuapi dan disuapi tiba2 saja dengan rasa penasaran yg amat sangat saya memasukan sebatang kayu berukuran menyerupai gagang sapu rumah ke dalam antara jari2 pada roda depan sepeda. Tak ayal , dengan telak sepeda itu berhenti dan sang penumpang pun jatuh. Di saat itu si bibi tak berhenti memintakan maaf kepada si aa dan saya hanya diam puas karena rasa penasaran tentang apa jadinya bila roda yg berjalan dan langsung ku masukan kayu antara jari2nya sirna sudah, jawabannya ialah sepeda berhenti dan pengemudinya jatuh. Betapa rasa ingin tahu yang sangat besar.


Kamu hanya pembantu

Suatu saat ketika saya kesal dengan si bibi dan saat itu saya duduk di kelas 3 SD. Karena kesalnya saya berkata " Kamu hanya pembantu dan bisa saya pecat" kata2 itu meluncur deras hanya karena saya ingin dia melakukan kehendak saya di saat beliau sibuk dengan pekerjaannya. Terhentak hati ku, setelah itu saya hanya merenung. Bukankah kata2 itu sangat kasar dan menyakitkan... bukankah diri ini sudah terdidik untuk berbudi pekerti luhur, bukankah semua mengenalku anak pendiam yang baik hati dan juga penurut.... tetapi dibalik kecaman itu yang paling emmbuatku merenung ialah, bukankah bibi juga manusia luar biasa yang senantiasa membantu keluargaku, bahkan lebih dari membantu. Saat itu saya merasa menjadi orang yang sangat kejam. dan sejak saat itu pula saya selalu takut dan benar2 memilih kata2 bila berbicara dengan orang lain dengan satu pedoman, jangan menyakiti lawan bicara....

Kurang lebih itulah masa kecil, mungkin kita terlalu naif untuk menjadi dewasa namun semua ini adalah fase yang harus kita lewati. Bahkan ketika tingginya belum mampu untuk mencuci tangan sendiri di wastafel, disanalah tempat berjuta imajinasi liar berkerumun dan meloncat-loncat bagai riak air di pantai...