Mungkin basi bila saya menceritakan tentang Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy. Tapi kenyataannya saya telat membacanya.
Begini ceritanya:
Sabtu malam saya mengajak seorang wanita yang baru kukenal untuk menemani menonton, dan saat itu ada Ayat-Ayat CInta di Cinema XXI. Saya sudah dengan tentang dasyatnya novel tersebut dan menjadi Best Seller ASEAN, begitu ada filmnya juga saya dengan Full Booked hingga ada cinema yang hanya menayangkan Ayat-Ayat Cinta. Tapi seperti biasa saya selalu telat baca karya yang mahadasyat seperti telat baca laskar pelangi, sang pemimpi dan edensornya andrea hirata.
"Mumpung belum baca novel, jadi mudah2an bisa lebih netral menilai film ayat2 cinta, karena bagaimanapun novel tidak bisa dipersandingkan dengan filmnya, merupakan 2 media yang berbeda"
SUBHANALLAH, my tears almost streaming watched that movie. Film yang benar-benar membuat saya berpikir berkali-kali.... dan membuat saya merasa kecil. Betapa Maha Suci dan Besarnya ALLAH. saya kira tidak perlu diceritakan tentang isi Film tersebut, sudah banyak blog atau resume yang menulisnya.
Pulang dari nonton, dada saya masih bergetar, satu pertanyaan utama yang timbul dalam hati: "Apakah Saya Seorang Muslim?"
Keesokannya saya putuskan membeli novelnya di Palasari, dan saya bawa ke cikarang. Begitu sibuknya minggu setelah saya nonton, tapi saya curi waktu dan minggu itu pula saya menyelesaikan baca. Tak bisa kupungkiri membacanya membuat saya menitikan air mata berkali-kali, kagum, sadar, malu.... Kembali pertanyaan berkecamuk dalam jiwa:
"Apakah saya seorang muslim? kalo iya mengapa kehidupan saya sangat jauh dari Tuntunan Rasulullah SAW, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya"
"mengapa dalam sholat saya tidak khusyu, bagaimana anak berumur 7 tahun di Tanah Arab sana bisa hafal Al-Quran sedangkan saya hanya hapal beberapa surat,itu pun sangat pendek yang terdapat di Juz 30, mengapa terakhir ini saya masih menganggap pacaran sebagai hal yang sangat wajar, mengapa pemikiran saya seakan lebih mengagungkan Dunia terutama barat, mengapa saya belum berani berteriak SAYA ADALAH MUSLIM, mengapa saya masih takut kepada bos ketimbang Allah"
Betapa cinta pada Allah dan Rasulnya itu menenangkan....
Buat apa saya hidup? Apa yang saya cari dalam hidup?
Mungkin selama ini pengajaran agama lebih bersifat Doktrin, antara Surga Neraka, Malaikat Iblis, Salah Benar... Padahal bila kita tahu maka Mencintai Allah dan Rasulnya akan membuat hidup berkah. Bila kita mengaudit diri kita, berapa banyak amal dan dosa yang kita lakukan di dunia, maka betapa sedikitnya amal dan betapa menggunungnya dosa. Dengan mengenal dan mencintai Allah serta Rasulnya maka kita melakukan ibadah karena kebutuhan, karena kita cinta bukan karena terpaksa dan takut. Benar bila kita harus takut pada Allah, tapi Allah maha pengasih dan penyayang. Maha suci Allah yang menganugerhakan hati yang lembut pada manusia.
Saya mau tanya kepada anda yang mengaku muslim, Apakah anda muslim? mengapa anda takut memperlihatkan bahwa anda seorang muslim, seorang yang dibekali agama yang rahmatan lil alamin.
Betapa tak terukur nikmat yang Allah berikan pada kita. Dari bangun tidur saja tadi berapa nikmat yang Allah berikan.
Betapa sempurnya Rasulullah, Akhlak yang baik, Al Quran berjalan. Betapa Ikhlas dan sabarnya beliau....
Insya Allah saya akan belajar lagi mengenal Allah dan Rasulnya. Semoga Allah memberi petunjuk bagi kita semua, menjadikan Cinta kepadanya serta Rasulnya lebih dari cinta kita terhadap Dunia yang sementara ini. Mudah - mudahkan hidup kita dipenuhi berkah...
Allah Yubarik Fik......
Minggu, 23 Maret 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar