Wajahnya kelihatan sangat lelah. guratan2 di bawah kedua belah mata tampak tegas, akan dapat dengan ditebak berapa umurnya. Kakinya sudah tak kuat menahan tubuh yang semakin kurus, jadi sebagian besar waktunya ia habiskan di kursi roda atau tempat tidur. Di kala orang dapat tidur setidaknya 7 jam sehari, pria ini hanya dapat tidur tak lebih dari 3 jam setiap harinya. bukan karena hobi sebagian manusia malam yang senantiasa "terbang" atau apapun, melainkan tidak dapat menahan pegal, gatal dan ngilu di sekujur tubuhnya. Apalagi ketika sehari sebelum cuci darah, seringkali harus menggunakan alat bantu pernapasan dengan tabung oksigen seperti yang ada pada rumah sakit. Sudah hampir tahun kedua baginya setelah divonis gagal ginjal.
Di malam itu saya pulang dari Cianjur seperti yang telah saya jadwalkan. Setibanya di rumah pukul 7 kurang 5 menit, tak ada seorang pun anggota keluarga. Yang ada hanyalah bi Dewi, dan dua pembantu lainnya yang saya pun lupa namanya. "Bapa, masuk rumah sakit setelah pulang dinas dari Kuningan. Bapa sempet masuk rumah sakit di sana gara2 pusing dan matanya mengeluarkan darah, tapi langsung dirujuk ke Boromeous Bandung" Bibi mencoba memberitahukan semampunya. Saya tahu selama saya di Cianjur Bapa pergi dinas ke Kuningan dengan membawa serta mama dan adikku, aip. Tak lama kemudian sodara kami menjemput saya dan adikku untuk datang ke rumah sakit. Tak ada yang mau memberitahu apa yang bapak derita. setelah beberapa saat memaksa akhirnya ada seorang rekan bapak yang mencoba menjelaskan tentang kejadian yang berlaku pada ayahku. "Bapa mengalami gagal ginjal, udah gitu harus dioperasi dan dipasang alat untuk cuci darah" pada awalnya saya tidak terlalu khawatir karena kabar terakhir alat tersebut telah terpasang pada lengan ayah saya. tepatnya dibalik kulit lengan dekat pergelangan tangan. Namun setelah saya mendapat pengertian bahwa, dengan dijatuhkan vonis gagal ginjal akut serta pemasangan alat bantu cuci darah atau hemodialisma tersebut sama artinya dengan ginjal yang berfungsi mencuci darah dari racun dan kotoran tidak lagi berfungsi dan diambil alih oleh alat cuci darah, ginjal yang senantiasa melakukan perkerjaan itu setiap saat sama sekali pensiun, oleh karena itu ketergantungan dengan ginjal yang terletak menyatu dalam tubuh kali ini berbeda letak nya dan bentuk, artinya tanpa melakukan cuci darah tersebut tubuh akan merasa lemah sesak napas karena darah tidak bersih seperti semestinya, itu pula berarti sejak saat itu kebergantungan itu berpindah pada alat dan secara syariat dan dengan izin ALLAH tanpa alat itu hidup akan terhenti, itu pula berarti tidak ada obat medis untuk menyembuhkan penyakit tersebut karena cuci darah hanya sebagai syariat pengganti ginjal untuk memperpanjang umur, danitu juga berarti biaya yg tidak terbayangkan untuk tetap dapat melanjutkan hidup.
Hal yang tidak terbayangkan saat pertama kali mendengar vonis itu adalah mental bapak. Betapa hancur semua harapan yang telah di susun selama hidupnya tentang, masa depan, kegiatan setelah pensiun, melihat anak2nya dewasa dan menimang cucu karena saat itu saya masih duduk di kelas tiga smp.
Betapa sulit menerima kenyataan ini, disaat kakaku masih saja tersesat dengan dunia pekatnya, ditambah bapak yang terpaksa menelan pil pahit itu tiba2. Memang ada jalan lain dalam pengobatannya secara medis, yaitu transplantasi Ginjal atau menukar ginjal yg sudah rusak tersebut dengan ginjal orang lain yang masih baik. Masalah utama ialah Biaya. Untuk dapat melakukan tranplantasi ginjal setidaknya kita harus mengantongi uang 500 juta (tahun 2000) untuk operasi di China, guanzhou dan treatment pasca operasi pun masih mahal, dan belum tentu ginjal yg baru tersebut cocok 100%. ada kalanya ginjal tersebut walaupun didiagnosis cocok tapi pada saat setelah dipasang malah tidak cocok. Tapi masalah utama ialah Uang, sebagai trade of dari tranplantasi ginjal.
Jadwal bapak cuci darah ialah 2 kali seminggu. dengan pertimbangan biaya yang lebih rendah bapak memilih RS Ginjal Habibie untuk treatment tersebut. namun setelah jalan beberapa bulan tampaknya karena alat nya kurang bagus hal itu pun berpengaruh kepada kesehatan bapak yang semakin menurun. Walaupun harga yang dibayar lebih mahal yaitu sebesar 450 ribu sekali cuci di Boromeous dibandingkan dengan RS Ginjal Habiebie Rp 300 ribu sekali cuci tapi pelayanan dan hasilnya jauh lebih memuaskan. Pada waktu di Habiebie bapak cukup sering menginap di RS karena kondisinya menurun setelah pindah ke Boromeous hal itu berkurang.
Bapak hanya seorang PNS walaupun dengan golongan cukup baik yaitu 4c. tapi saat itu pns bergaji pokok sangat minim Rp 1.750.000. Bapak bukan tipe yang menggunakan uang yang bukan hak nya, setidaknya itulah yang kurasakan. Kami tidak mempunyai mobil pribadi, bapak menggunakan mobil plat merah Ironi memang dengan jabatannya yg akhir2 ini saya tahu sangat bergengsi, Kepala Cabang Kotamadya Bandung Dinas Perdagangan . Pernah suatu saat saya bertanya pada mama sewaktu masih kelas 4 SD "mah ko kita ga punya mobil? padahal hampir setiap bapak tidak menggunakan mobil kantor selalu diantar jemput oleh anak buahnya dengan mobil yang kadang berbeda walupun supirnya sama" "teman bapakmu itu pinter nyari uangnya, tidak seperti bapakmu" jawabnya singkat yang akhir2 ini kuketahui maksud sesungguhnya mamah. suatu saat saya menghitung tentang biaya pengobatan bapak:
1. cuci darah 2 kali seminggu = 2 X 450.000 --------> 900.000
2. obat2an 100.ooo X 2 -----------------------------> 200.000
setidaknya menghabiskan 1.100.ooo semninggu itu berarti minimal membutuhkan 4.100.000 selama satu bulan. dan Kenyataanya akan lebih karena kadang obatnya lebih atau bahkan bapa harus menginap karena kondisinya menurun. bahkan ada obat berupa suntikan seharga 1.5 juta untuk sekali suntik dengan periode yang tidak saya ketahui.
1.750.000 gaji bapak terakhir, beserta tunjangan paling besar dapat 2 kali lipatnya saya rasa... masih belum cukup untuk biaya minimum cuci darah selama sebulan. Dan bapak tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kegiatan kerjanya. Akhirnya beliau minta pensiun dini menyadari tubuhnya tidak akan kuat lagi melanjutkan pekerjaannya.
bintik hitam berdiameter 0.5 cm memenuhi tubuhnya, bintik tersebut tidak lahir dengan sendirinya tapi karena awalnya muncul bintik merah gatal atau biasa kami sebut bentol, dan karena kegatalannya nya yg luar biasa maka bapak selalu menggaruknya, bahkan beliau mengorbankan salah satu sisir rambut sebagai alat garuknya. bintik kecil merah gatal tersebut akhirnya gosong akibat selalu digaruk... hampir tiap malam gatal tersebut penyebab tidak bisa tidurnya. Apabila bukan gatal maka karena sesaknya atau rasa ngilu yang amat sangat seperti tulang yang ditekan obeng. dan tiap malam pun kita bergantian memijati atau menggaruki punggung dengan sisir biru. sebenarnya tidak setiap malam tapi setiap kita ada di rumah, bahkan sering kali subuh dinihari kami dibangunkan oleh karena gatal dan ngilunya. Sungguh menderitanya beliau....
Rasanya tidak tega melihat penderitaannya, terutama mentalnya yang hancur. Pernah suatu ketika kami semua sedang merasa lelah atau lebih jujurnya malas untuk memijati dan menggaruki maka kami melakukannya dengan setengah hati. Kami tidak sadar bahwa mental orang tua itu tidak setangguh dahulu dan sangat sensitif. malam itu bapak tidak mau makan , dan ketika saya tanya " Pa mau makan apa?" setelah ibu menyerah bertanya tentang makan malam karena tidak dijawab. "bapak ga mau makan, bapa mau mati".... dengan lantang orang tua yang sangat kusayangi itu menjawab. setelah itu bapak pergi entah kemana, mamah hanya bisa diam dan lelah dengan sangat. saya tahu mamah pasti menangis dalam kamar tapi saya tidak kuat untuk menenangkannya. "Dewi, kalo suami lagi sakit teh di rewat atuh" terdengar dari suara telepon bahwa kakaknya bapak yg cewek sedang menasehati mamah. Ternyata bapak pergi ke rumah kakaknya dan baru keesokan harinya pulang.
Rasanya sangat lelah, di satu sisi ayah sakit di sisi lain kakakku semakin menjadi dengan narkobanya. Rasanya seperti berada di dunia yang aneh. Di saat semua hampa, di saat semua pekat di saat tak ada kekutan bahkan untuk tersenyum, di situlah letak Kekuasaan Allah. Allah takkan membenai hambanya dengan beban yang tak sanggup dipikul hambanya.
09 September 2001
Subuh itu terasa begitu dejavu... mamah ngebangunin saya dengan tergesa dan panik, dengan kesadaran yang baru setengah pulih saya beranjak untuk menemui bapak. tampaknya bapak sudah berada di depan kamar tidur dengan kursi rodanya. "kenapa pa?" tanyaku, dan bapak hanya bisa mencoba untuk bernafas, karena saat itu rasanya sulit sekali bapak untuk bernafas. "yit, mamah solat subuh dulu kamu tungguin bapa ya, udah gitu kita ke boromeous" mama tetap berusaha tenang . sementara dengan segala kepanikan saya berada sendiri di sebelah bapak tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Di subuh itu, di saat hanya seorang diri menemami tanpa tahu apa yang harus dilakukan, Sang Kholik telah memangil Bapak untuk kembali, dan hingga akhirnya saya masih tidak sadar apa yang terjadi dan saya tidak mau menerima kenyataan bahwa bapak yang jujur, yang hebat seluruh dunia itu telah tiada. barulah teteh, aip dan kaka bangun.
Kita semua masih belum bisa mengambil keputusan hingga dokter rahmat datang pukul 6 pagi. "kikik, udah sekitar setengah jam ga ada, Ikhlasin aja ya Dew" cukup berat dokter rahmat menyampaikannya, namun berupaya realistis. ...
Hingga ku menulis ini masih saja terkadang bermimpi untuk berbincang sama bapak, Ingin rasanya meminta nasehat, diskusi tentang ekonomi makro, dan masa depan... namun takdir berkata lain. Dan semua ini telah mendidikku untuk menjadi lebih mandiri, dan semoga akan hadir ayah paling hebat untuk anakku...
Bandung, 28 September 2008
09 September 2001
Subuh itu terasa begitu dejavu... mamah ngebangunin saya dengan tergesa dan panik, dengan kesadaran yang baru setengah pulih saya beranjak untuk menemui bapak. tampaknya bapak sudah berada di depan kamar tidur dengan kursi rodanya. "kenapa pa?" tanyaku, dan bapak hanya bisa mencoba untuk bernafas, karena saat itu rasanya sulit sekali bapak untuk bernafas. "yit, mamah solat subuh dulu kamu tungguin bapa ya, udah gitu kita ke boromeous" mama tetap berusaha tenang . sementara dengan segala kepanikan saya berada sendiri di sebelah bapak tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Di subuh itu, di saat hanya seorang diri menemami tanpa tahu apa yang harus dilakukan, Sang Kholik telah memangil Bapak untuk kembali, dan hingga akhirnya saya masih tidak sadar apa yang terjadi dan saya tidak mau menerima kenyataan bahwa bapak yang jujur, yang hebat seluruh dunia itu telah tiada. barulah teteh, aip dan kaka bangun.
Kita semua masih belum bisa mengambil keputusan hingga dokter rahmat datang pukul 6 pagi. "kikik, udah sekitar setengah jam ga ada, Ikhlasin aja ya Dew" cukup berat dokter rahmat menyampaikannya, namun berupaya realistis. ...
Hingga ku menulis ini masih saja terkadang bermimpi untuk berbincang sama bapak, Ingin rasanya meminta nasehat, diskusi tentang ekonomi makro, dan masa depan... namun takdir berkata lain. Dan semua ini telah mendidikku untuk menjadi lebih mandiri, dan semoga akan hadir ayah paling hebat untuk anakku...
Bandung, 28 September 2008