Minggu, 20 Januari 2008

Masa kecil, ketika kepolosan dan pencarian

"Gung, kalo kamu dapet semilyar kamu mau beli apa?"

pertanyaan klasik anak kecil saat membahas tentang mimpi-mimpinya... pertanyaan seorang anak kepada teman sebaya, sebenarnya lebih tua, pada saat dia belum genap 9 tahun.

"hmm..... mau bangun rumah yang gede, ada banyak kolam ikan, udah gitu ada toko maenan di rumah, beli mobil taman, beli koleksi lengkap dragon ball, maenan batman, beli 3Do yang setahu kita itulah permainan konsol paling canggih saat itu, dan PS belum ada"

"Mun maneh par?" tatapanya tetap keatas tak melihat muka lawan bicaranya yg tepat disampingnya dengan dengan jarak 5 cm..

"saya mau beli maenan yang banyak.... beli mobil, motor balap, rumah yang ada restoran dan toko maenan..."

Siang itu cuaca cukup cerah, mungkin sekitar jam 1 lebih bahkan hampir jam dua... tiba2 cerah dan panas mentari berubah seperti sekam yang di ditutupi oleh karung goni yang basah. Ah... salah satu cuaca favorit ku. mentari itu tertutup oleh awan yang hendak berjalan perlahan seperti kawanan musafir yang melakukan perjalanan jauh, atau seperti sekumpulan kerbau yang berpindah mencari sumber air untuk kehidupannya. yang saya lakukan ialah jongkok dan duduk, sebuah kombinasi antara posisi jongkok tapi bokong ikut menopang tubuh, di atas pagar besi dengan tinggi pagar sekitar 1,5 meter dan lebar kurang dari 1 meter karena pagar tersebut merupakan anak pagar untuk dilewati 1 orang atau 1 motor. tiang yg melekat Pagar tersebut tingal 3 karena 2 lainyya potong setelah karat menyelimutinya, dan di bekas 2 tiang pagar itu ada melakukan jongkok dan duduk walau ruang yang tersedia sangat pas dengan ukuran tubuh saya yang terbilang sangat kurus. Tapi di tempat itulah khyalan akan sesuatu muncul. Sambil melihat awan yang menutupi sinar mentari saya rasakan kedamaian yang amat, seperti pelukan ibu ketika kita selesai mandi karena kehujanan saat main bola, atau seperti berebah pada tumpukan bantal bed cover dan guling putih yg lembut. mungkin hal itu terlalu berlebihan untuk anak berumur 5 tahun dalam beberapa bulan kedepan dan belum merasakan institusi pendidikan formal yang sering dinamakan Taman Kanak-kanak.

Kata-Kata Orang Tua
Kata orang tua, kita harus menurut kata2nya. pernah suatu ketika guru TK saya yang sangat saya kagumi karena kebaikannya dan juga dia berparas cantik Bu Ening, yang ternyata baru saja menikah ketika kami naik ke TK 0 besar, menyuruh kami membawa 1 tanaman untuk diletakan pada halaman TK. Saat saya hendak turun dari mobil, paman saya berkata "yit, pot nya kang deden pegangin dulu, ntar kalo udah deket baru kamu yang pegang"... kang deden berkata sambil tak lepas dari kursi supirnya. "ga usah, uyit juga bisa sendiri" dan langsung saja saya turun dari mobil dengan bangga membawa pot dalam pelukan, alhasil begitu kaki menginjakan tanah pot itu juga ikut menyentuh tanah dan pecah... semenjak itu saya percaya apa yang keluar mulut dari orang tua itu akan berlaku dalam kenyataan. Tapi untuk kedepannya saya sering juga tidak mengikuti apa yang dikatakan orang tua dan sebagian besar yang saya tidak ikuti menjadi kenyataan.

Penasaran kalo kayu masuk ke jari-jari sepeda yg berjalan
Mungkin di otak setiap anak kecil pada saat belum sekolah hanyalah main dan main. bahkan makan pun seperti sesuatu yang tidak dibutuhkan, sangat bertolak belakan ketika mereka beranjak menjadi manusia dewasa yang merasakan tanpa makanan maka ancaman hidup pun akan terjadi. Walaupun umur belum geanp 5 tahun dan itu menyebabkan saya belum boleh mengecam pendidikan TK, tapi rasa ingin tahu ini sangatlah dalam. Pernah suatu sore, baru saja saya mandi dengan tanpa paksaan dan pembantuku berusaha sekuat mungkin untuk memasukan makanan ke dalam mulutku dan berharap sampai ke dalam perutku. dengan pakaian lengkap pembantuku membujuk agar makanan dapat masuk ke dalam mulut ini dengan rayuan yang membohongi anak2 indonesia," ayo, satu suap lagi" dan ia katakan untuk kali ke sepuluh di depan rumah. Tiba2 ada tetanggaku yang cukup dewasa terlihat sedang naik sepeda dan seketika ia melewati saya dan si bibi yg sedang berkegiatan menyuapi dan disuapi tiba2 saja dengan rasa penasaran yg amat sangat saya memasukan sebatang kayu berukuran menyerupai gagang sapu rumah ke dalam antara jari2 pada roda depan sepeda. Tak ayal , dengan telak sepeda itu berhenti dan sang penumpang pun jatuh. Di saat itu si bibi tak berhenti memintakan maaf kepada si aa dan saya hanya diam puas karena rasa penasaran tentang apa jadinya bila roda yg berjalan dan langsung ku masukan kayu antara jari2nya sirna sudah, jawabannya ialah sepeda berhenti dan pengemudinya jatuh. Betapa rasa ingin tahu yang sangat besar.


Kamu hanya pembantu

Suatu saat ketika saya kesal dengan si bibi dan saat itu saya duduk di kelas 3 SD. Karena kesalnya saya berkata " Kamu hanya pembantu dan bisa saya pecat" kata2 itu meluncur deras hanya karena saya ingin dia melakukan kehendak saya di saat beliau sibuk dengan pekerjaannya. Terhentak hati ku, setelah itu saya hanya merenung. Bukankah kata2 itu sangat kasar dan menyakitkan... bukankah diri ini sudah terdidik untuk berbudi pekerti luhur, bukankah semua mengenalku anak pendiam yang baik hati dan juga penurut.... tetapi dibalik kecaman itu yang paling emmbuatku merenung ialah, bukankah bibi juga manusia luar biasa yang senantiasa membantu keluargaku, bahkan lebih dari membantu. Saat itu saya merasa menjadi orang yang sangat kejam. dan sejak saat itu pula saya selalu takut dan benar2 memilih kata2 bila berbicara dengan orang lain dengan satu pedoman, jangan menyakiti lawan bicara....

Kurang lebih itulah masa kecil, mungkin kita terlalu naif untuk menjadi dewasa namun semua ini adalah fase yang harus kita lewati. Bahkan ketika tingginya belum mampu untuk mencuci tangan sendiri di wastafel, disanalah tempat berjuta imajinasi liar berkerumun dan meloncat-loncat bagai riak air di pantai...


0 komentar: